YAMATO Mindset: Saat Riset jadi Kekuatan Nasional
Pada 1941, Jepang mengoperasikan Yamato, kapal perang yang kemudian menjadi salah satu simbol paling ambisius dalam sejarah rekayasa maritim. Ukurannya masif, lapisan bajanya tebal, dan meriam utamanya merupakan yang terbesar yang pernah dipasang pada sebuah battleship. Namun, yang menarik dari Yamato sebenarnya bukan senjatanya, melainkan kemampuan bangsa yang membangunnya.
Untuk menghasilkan sebuah kapal seperti Yamato, Jepang membutuhkan lebih dari sekadar galangan kapal. Mereka membutuhkan metalurgi, hidrodinamika, mesin berdaya besar, optik presisi, sistem komunikasi, manufaktur berat, desain kapal, koordinasi industri, dan ribuan manusia dengan kemampuan teknis yang sangat spesifik. Dengan kata lain, Yamato adalah produk dari sebuah kebudayaan teknologi.
Naasnya, empat tahun setelah Yamato memasuki dinas, Jepang kalah perang. Bahkan pada April 1945, kapal itu tenggelam. Beberapa bulan kemudian, kota-kota Jepang berada dalam kehancuran, kapasitas industrinya terpukul, dan ambisi militernya berakhir.
Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut tenggelam bersama Yamato: kemampuan untuk merancang, kemauan untuk melakukan eksperimen, obsesi terhadap presisi, dan keyakinan bahwa persoalan teknik, betapapun rumitnya, pada akhirnya dapat dipecahkan melalui pengetahuan.
Dari yang Terbesar Menjadi yang Terbaik
Kurang dari dua dekade setelah perang berakhir, Jepang memperkenalkan Shinkansen kepada dunia. Lalu datang Toyota, Honda, Sony, Canon, Nikon, Panasonic, Komatsu, dan berbagai nama lain yang perlahan mengubah persepsi dunia terhadap Jepang.
Negara yang sebelumnya dikenal melalui kekuatan militernya mulai dikenal melalui sesuatu yang sama sekali berbeda: teknologi. Jepang tidak kehilangan kemampuannya untuk membangun sesuatu yang kompleks. Mereka mengubah tempat kemampuan itu digunakan. Medan pertempuran bergeser ke ranah sipil, seperti laboratorium, universitas, pusat riset, dan lantai pabrik. Jelas nampak sebuah ironi menarik di balik Yamato: Secara engineering, kapal itu merupakan pencapaian luar biasa. Secara strategis, sejarah justru bergerak ke arah yang berbeda.
Peperangan laut masa kini tidak lagi ditentukan semata-mata oleh kapal dengan meriam terbesar dan baja paling tebal. Air power, kapal induk, radar, submarine warfare, dan kemudian teknologi rudal mengubah cara kekuatan maritim digunakan. Jepang menerima pelajaran mahal bahwa kemampuan membuat sesuatu yang besar tidak dengan sendirinya menjadikannya paling relevan.
Pengalaman itu menemukan bentuk baru dalam industri Jepang setelah perang. Bukan lagi mengejar ukuran terbesar, melainkan efisiensi. Bukan hanya kekuatan, melainkan reliabilitas. Bukan sekadar produksi massal, melainkan presisi. Barang dibuat lebih kecil, lebih hemat energi, lebih tahan lama, dan semakin sulit rusak. Kemampuan memperbaiki detail terus-menerus menjadi bagian dari kebudayaan industri.
Dunia kemudian mengenalnya melalui berbagai konsep manajemen dan manufaktur Jepang. Namun, yang sering luput adalah fondasi di belakang seluruh sistem tersebut: riset yang dilakukan terus-menerus.
Sebuah Toyota tidak lahir ketika mobil memasuki assembly line. Shinkansen tidak dimulai ketika kereta meninggalkan stasiun. Robot industri tidak muncul ketika lengannya pertama kali bergerak. Di belakang semuanya terdapat tahun-tahun penelitian material, pengujian, kegagalan, desain ulang, pengembangan komponen, dan manusia yang dibayar untuk memikirkan persoalan yang hasilnya bahkan belum tentu segera terlihat.
Di situlah kekuatan teknologi sesungguhnya dibangun.
Research IS Infrastructure
Pada tahun fiskal 2024, Jepang menghabiskan sekitar 23,79 triliun yen untuk penelitian dan pengembangan (R&D), alias angka tertinggi sepanjang sejarahnya. Nilainya mencapai sekitar 3,70 persen dari PDB Jepang. Dari jumlah itu, perusahaan Jepang sendiri menyumbang sekitar 17,43 triliun yen, atau lebih dari tujuh dari setiap sepuluh yen belanja R&D Jepang. Sektor transport equipment saja membelanjakan sekitar 5,10 triliun yen untuk pos R&D.
Angka itu menjelaskan sesuatu. Di Jepang, riset tidak ditempatkan di pinggiran ekonomi. Anggaran riset berada di dalam ekonomi.
Pabrik dan laboratorium tidak hidup dalam dua dunia yang terpisah. Industri membutuhkan universitas, universitas berinteraksi dengan dunia usaha. Dan para insinyur menghadapi persoalan produksi yang konkret, sementara ilmuwan membuka kemungkinan yang sebelumnya bahkan belum memiliki pasar.
Penting untuk kita garisbawahi bahwa tidak semua penelitian harus langsung menghasilkan barang. Basic science tetap membutuhkan kesabaran dan ruang untuk gagal. Penelitian yang hari ini terlihat abstrak bisa menjadi dasar industri dua atau tiga dekade kemudian.
Contoh paling nyata datang dari Jepang sendiri melalui penemuan blue light-emitting diode atau LED biru. Pada dekade 1970-an dan 1980-an, penelitian mengenai gallium nitride (GaN) tampak seperti kerja laboratorium yang jauh dari kebutuhan pasar. Para peneliti berusaha menumbuhkan kristal material semikonduktor yang stabil, sebuah persoalan teknis yang saat itu bahkan dianggap sangat sulit untuk dipecahkan.
Namun penelitian panjang Isamu Akasaki, Hiroshi Amano, dan Shuji Nakamura akhirnya baru bisa melahirkan LED biru yang efisien pada dekade 1990-an. Penemuan mereka kemudian membuka jalan bagi lampu LED putih hemat energi, layar ponsel dan televisi, laser Blu-ray, hingga semikonduktor daya untuk kendaraan listrik dan smart grid. Riset yang awalnya terlihat abstrak itu membutuhkan waktu hampir dua dekade untuk mencapai aplikasi praktis. Setelah berhasil, itu menciptakan fondasi bagi industri bernilai sangat besar. Bayangkan jika riset mereka tidak didukung atau diputuskan di tengah jalan. Mungkin saja bangsa lain yang akan melahirkannya.
Contoh lain dari konteks material, serat karbon juga berkembang melalui riset panjang mengenai struktur polimer dan komposit, sebuah bidang yang pada awalnya tidak terdengar seperti isu strategis. Akan tetapi, ketika teknologi itu matang material ringan dan kuat tersebut menjadi vital bagi pesawat, satelit, kendaraan listrik, turbin angin, hingga platform pertahanan.
Dengan demikian, sebuah negara yang memiliki ekosistem riset sehat harus mempunyai mekanisme untuk membawa sebagian pengetahuan tersebut keluar dari jurnal, memasuki prototype, lalu menuju industrial scale. Jikapun gagal atau tidak langsung terlihat nilainya pada saat itu, jangan dikesampingkan begitu saja.
Di sinilah Indonesia mempunyai ruang yang sangat besar untuk tumbuh.
Indonesia dan Perjalanan Panjang
Indonesia sebenarnya bukan negara tanpa penelitian. BRIN mencatat total belanja riset nasional pada 2024 mencapai sekitar Rp50,27 triliun, atau kurang lebih 0,23 persen dari PDB. Sekitar 71,02 persen belanja tersebut berada di sektor pendidikan tinggi, sementara kontribusi badan usaha dan industri sekitar 14,96 persen.
Bandingkan struktur tersebut dengan Jepang. Jepang membelanjakan sekitar 3,70 persen PDB untuk R&D, sementara Indonesia sekitar 0,23 persen. Namun, perbedaan yang lebih penting justru berada di balik angka tersebut. Di Indonesia, perguruan tinggi masih menjadi mesin utama kegiatan penelitian. Di Jepang, industri adalah pemain terbesarnya.
Artinya, tantangan Indonesia bukan sekadar memiliki lebih banyak peneliti. Indonesia harus menciptakan lebih banyak alasan bagi perusahaan untuk membutuhkan penelitian.
Selama semua perusahaan masih merasa lebih murah mengimpor teknologi daripada mengembangkannya, posisi laboratorium akan tetap jauh dari factory floor. Selama universitas mengejar penelitian tanpa mengetahui persoalan teknologi yang sedang dihadapi industri, banyak pengetahuan cuma akan berakhir sebagai dokumen. Dan selama keberhasilan riset terutama dihitung dari aktivitas administratif, maka kemampuan teknologi tidak otomatis lahir dari bertambahnya anggaran.
Perdebatan mengenai riset tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Berapa banyak uang yang kita keluarkan?” Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: “Kemampuan apa yang kita peroleh setelah uang itu dikeluarkan?”
Mari kita kembali ke contoh kasus Jepang tadi, mengapa ukuran keberhasilan riset tidak boleh berhenti pada nominal anggaran. Pada awalnya, penelitian gallium nitride atau GaN untuk menghasilkan LED biru tampak seperti eksperimen fisika material yang mahal, rumit, dan jauh dari kebutuhan pasar. Namun ketika riset itu berhasil diterjemahkan menjadi kemampuan manufaktur, Jepang tidak hanya memperoleh lampu yang lebih hemat energi. Ia memperoleh penguasaan material semikonduktor, paten, proses produksi, rantai pasok elektronik, dan pasar industri baru.
MEXT mencatat pengembangan LED biru kemudian memunculkan nilai pasar baru sekitar ¥350 miliar serta sekitar 32.000 lapangan kerja. Pertanyaan yang relevan bukan sekadar berapa yen yang dihabiskan untuk riset GaN, melainkan kemampuan baru apa yang didapat Jepang setelahnya: kemampuan membuat, menyempurnakan, dan menjual teknologi yang sebelumnya belum ada. Di sinilah potensi dan visi yang segenap bangsa Indonesia harus kembangkan.
Rp12 Triliun Adalah Awal
Ada perubahan menarik pada 2026. Pemerintah Indonesia meningkatkan dana riset yang sebelumnya sekitar Rp8 triliun dengan tambahan sekitar Rp4 triliun, sehingga pagunya menjadi kurang lebih Rp12 triliun. Tambahan tersebut antara lain diarahkan kepada penguatan penelitian universitas serta BRIN.
Langkah itu penting, tetapi pengalaman Jepang menunjukkan bahwa besarnya anggaran hanyalah separuh cerita.
Pemerintah Indonesia juga perlu memastikan setiap lapisan ekosistem mempunyai fungsi berbeda. Universitas mengeksplorasi ilmu; BRIN membangun kapasitas penelitian strategis dan fasilitas yang tidak ekonomis bila ditanggung satu perusahaan; Industri membawa problem nyata, kebutuhan pasar, dan kemampuan produksi; Investor menyediakan modal untuk membawa prototype melewati lembah panjang antara laboratorium dan commercial scale; Negara menentukan bidang-bidang di mana ketergantungan teknologi terlalu strategis untuk dibiarkan selamanya.
Jangan lupakan, dokumentasi dan publikasi tetap penting: hak paten dan jumlah peneliti. Meski demikian, semua itu seharusnya bukan garis finis. Keberhasilan pada akhirnya juga terlihat ketika Indonesia mampu membuat sesuatu yang sebelumnya harus dibeli dari luar, antara lain sensor, material, mesin, obat, komponen semikonduktor, sistem propulsi, radar, teknologi baterai, marine robotics, atau kapal.
Anggaran riset seharusnya mampu secara perlahan mengubah apa yang mampu dilakukan sebuah bangsa, tidak hanya sekadar menghasilkan lebih banyak pengetahuan.
Untuk 2027, gambar besarnya masih bergerak karena pembahasan RAPBN masih berlangsung. Oleh karena itu, berbagai angka tidak boleh dicampur begitu saja. Dana riset nasional, anggaran BRIN, anggaran riset perguruan tinggi, dan Program Riset dan Inovasi Iptek Kemdiktisaintek merupakan kelompok anggaran yang berbeda.
Rencana Strategis Kemdiktisaintek 2025–2029, misalnya, menempatkan indikasi kebutuhan Program Riset dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada 2027 sekitar Rp3,61 triliun, naik dari indikasi sekitar Rp1,63 triliun pada 2026. Angka tersebut merupakan kerangka pendanaan satu program di Kemdiktisaintek, bukan keseluruhan belanja riset nasional.
Sementara itu, pada awal September 2026, anggaran Kemdiktisaintek 2027 masih berada dalam proses pembahasan bersama Komisi X DPR RI.
Di titik inilah Indonesia memiliki kesempatan untuk menghindari satu jebakan klasik: menaikkan anggaran tanpa memperbaiki ekosistem hanya akan menghasilkan lebih banyak proyek. Yang kita butuhkan adalah lebih banyak capability.
Indonesia perlu mengetahui teknologi apa yang ingin dikuasainya dalam lima, sepuluh, dan dua puluh tahun ke depan. Lalu dunia penelitian bergerak menuju target tersebut tanpa mematikan kebebasan basic research yang justru menjadi sumber penemuan jangka panjang.
Ini bukan pilihan antara riset fundamental atau riset terapan. Negara teknologi, seperti halnya Jepang, membutuhkan keduanya.
Pelajaran dan Kolaborasi
Ada paradoks yang membuat Jepang sangat menarik bagi Indonesia. Jepang tidak diberkahi sumber daya alam sebesar Indonesia. Keterbatasan itu memaksanya mencari nilai di tempat lain, seperti pengetahuan, teknologi, produktivitas, efisiensi, dan presisi.
Indonesia memiliki kondisi yang hampir berlawanan. Nikel berada di tanah kita, tembaga, timah, keanekaragaman hayati berada di hutan dan laut kita, energi panas bumi yang tersimpan di bawah kepulauan kita, hingga laut Indonesia yang berada di antara dua samudra dan menjadi salah satu ruang maritim paling strategis di dunia.
Indonesia tidak kekurangan sesuatu untuk dikembangkan. Jadi yang menentukan kemudian adalah berapa banyak nilai yang mampu kita ciptakan setelah sumber daya ditemukan. Menjual mineral menghasilkan pendapatan, memahami material menghasilkan kemampuan, membuat baterai menghasilkan industri, dan mengembangkan teknologi generasi berikutnya menghasilkan kekuatan yang jauh lebih sulit digantikan.
Jepang menjadi kaya teknologi ketika ia relatif miskin sumber daya. Jadi, tantangan Indonesia jauh lebih menarik: bisakah negara yang kaya sumber daya juga menjadi kaya teknologi?
Jawabannya tidak akan datang dari tambang, melainkan datang dari laboratorium.
Di sinilah hubungan baik dengan Jepang memberikan Indonesia kesempatan yang sangat menarik.
Kerja sama pendidikan Indonesia–Jepang sebenarnya sudah berjalan dalam berbagai bentuk selama puluhan tahun. Yang kini mulai terlihat adalah dorongan untuk membawa hubungan tersebut lebih dekat kepada kebutuhan industri.
Pada Februari 2026, Kemdiktisaintek dan JICA membahas penguatan kolaborasi pendidikan tinggi, fasilitas penelitian, dan khususnya hubungan industri–akademisi, termasuk keterlibatan perusahaan-perusahaan Jepang. JICA juga tengah merumuskan proyek yang melibatkan lima perguruan tinggi Indonesia untuk memperkuat sains dan teknologi.
JST dan BRIN pada 2026 juga membuka kembali skema NEXUS untuk penelitian bersama Jepang–Indonesia. Salah satu putaran terbaru berfokus pada bioenergi dan menggabungkan proyek penelitian dengan pembinaan peneliti muda Indonesia yang menempuh pendidikan doktoral sambil terlibat dalam joint research.
Di sektor yang sangat dekat dengan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan, program SATREPS Jepang pada 2026 memilih proyek bersama Indonesia mengenai pengelolaan mangrove dan blue carbon, dengan BRIN sebagai mitra penelitian Indonesia.
Kita bisa mulai melihat benang merahnya. Hubungan Indonesia–Jepang tidak harus berhenti pada model lama ketika satu pihak membawa teknologi dan pihak lain menggunakannya. Tahap berikutnya jauh lebih menarik: membangunnya bersama.
Bukan hanya membeli kapal Jepang, tetapi meneliti material kapalnya bersama. Bukan hanya membeli sensor, tetapi mengembangkan generasi berikutnya bersama. Bukan sekadar mengirim mahasiswa ke Jepang, melainkan membentuk joint laboratory yang mempertemukan mahasiswa Indonesia, profesor Jepang, engineer industri, dan perusahaan Indonesia dalam satu persoalan teknologi.
Transfer teknologi memang penting, namun co-creation jauh lebih berharga.
Transfer memberikan kita sesuatu yang sudah diketahui orang lain. Sementara co-creation membuat kita ikut menemukan sesuatu yang sebelumnya belum diketahui siapa pun.
Membangun “Yamato” Kita Sendiri
Oleh sebab itu, hubungan baik dengan Jepang sangatlah relevan dan signifikan bagi masa depan maritim Indonesia.
Kita adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau dan wilayah laut yang membentuk sebagian besar ruang strategis Nusantara. Akan tetapi, problem teknologinya nyaris tidak berujung.
Bagaimana mengawasi laut seluas itu? Bagaimana mengetahui apa yang bergerak di bawah permukaan? Bagaimana membangun kapal yang semakin efisien? Bagaimana memetakan dasar laut? Bagaimana mengembangkan autonomous underwater vehicle? Bagaimana memanfaatkan energi laut? Bagaimana meningkatkan budidaya perikanan tanpa menghancurkan ekosistem? Bagaimana mengukur blue carbon? Bagaimana membangun coastal resilience terhadap tsunami dan kenaikan muka laut? Bagaimana menciptakan pelabuhan yang lebih pintar? Bagaimana membangun sistem propulsi yang suatu hari dapat diproduksi sendiri?
Semua pertanyaan itu memiliki satu kesamaan: jawabannya tidak bisa ditemukan melalui impor selamanya atau impor semuanya.
Indonesia sendiri harus ikut melakukan eksperimen. Dalam konteks ini, Jepang menarik karena ia memahami laut sebagai persoalan eksistensial, bukan semata partner yang menarik karena memiliki teknologi.
Indonesia dan Jepang sama-sama bangsa kepulauan. Keduanya hidup berdampingan dengan gempa. Keduanya mempunyai kota-kota yang bergantung kepada pelabuhan. Keduanya memahami bahwa laut dapat menjadi sumber kemakmuran sekaligus sumber ancaman.
Namun, pengalaman industrialisasi membawa keduanya ke posisi yang berbeda. Jepang membangun kemampuan teknologinya lebih dahulu, dan Indonesia sekarang memiliki kesempatan untuk menggunakan skala geografisnya sendiri sebagai laboratorium.
The Indonesian sea can become one of the world’s largest maritime laboratories.
Di sinilah teknologi Jepang datang sebagai titik awal penelitian bersama, bukan produk akhir.
Indonesia tentu tidak membutuhkan Yamato baru sebab dunia dan relevansi teknologinya sudah berubah. Bentuk kekuatan pun berubah.
Kisah Yamato yang masih relevan setelah hampir sembilan dekade kemudian adalah di mana bangsa yang membangunnya percaya bahwa persoalan teknik yang rumit layak untuk dicoba.
Kekalahan perang tidak mematikan keyakinan Jepang tersebut. Energinya berpindah: dari battleship menuju bullet train, dari arsenal menuju automobile, dari military optics menuju precision industry, dari ambisi menguasai laut menuju kemampuan membuat teknologi maritim yang digunakan dunia.
Itulah Yamato Mindset. Bukan nostalgia terhadap sebuah kapal perang, bukan romantisasi terhadap masa lalu, melainkan sebuah kebudayaan yang menempatkan teknologi sebagai hasil dari ketekunan nasional.
Indonesia hari ini memiliki masalah yang bahkan jauh lebih menarik daripada Jepang setelah perang. Kita memiliki pasar yang besar, sumber daya yang besar, generasi muda yang besar, dan sebuah kepulauan yang memberikan ribuan persoalan yang menunggu untuk kita pecahkan.
Potongan-potongannya sudah ada. Tantangannya adalah membuat semuanya bekerja sebagai satu mesin.
Pemerintah Indonesia mulai menambah uang untuk penelitian. Universitas memiliki ratusan ribu akademisi. BRIN mempunyai infrastruktur penelitian. Industri Indonesia terus tumbuh. Jepang dan berbagai negara lain membuka peluang kolaborasi dengan Indonesia.
Sejarah teknologi Jepang memberikan satu pelajaran sederhana namun dahsyat: sebuah bangsa tidak menjadi maju ketika mulai mampu membeli teknologi terbaik. Mereka mulai berubah ketika anak-anak bangsanya percaya bahwa mereka juga mampu menciptakannya.
Indonesia membutuhkan keberanian untuk percaya bahwa sesuatu sebesar Yamato, apa pun bentuk teknologinya di masa depan, dapat dirancang, diteliti, diuji, gagal, diperbaiki, dan akhirnya dibangun oleh tangannya sendiri.