Membaca Xiangqi China dalam Konflik Iran vs Amerika

Fransiscus X Wawolangi
Author
Fransiscus X Wawolangi
Secretary General of SCSC

Illustration: The world's primary trade gateway. This depicts the bustling activity of the Strait of Malacca, the most strategic maritime route connecting Asia's economy to the rest of the world.

Dalam konflik Iran versus Amerika, banyak pengamat masih membaca China dengan kacamata catur Barat. Mereka mencari langkah langsung: kapan China masuk, kapan China menekan Amerika, kapan China membela Iran, kapan China mengirim dukungan terbuka.

Karena tidak menemukan gerakan frontal, sebagian lalu menyimpulkan China pasif, bingung, atau sekadar menunggu. Padahal bisa jadi masalahnya bukan China yang pasif. Masalahnya adalah cara membacanya yang salah.

China Tidak Sedang Bermain Catur Barat.

Xi Jinping sedang memainkan xiangqi, catur China. Perbedaannya penting. Dalam catur Barat, permainan berputar pada logika skakmat: raja lawan harus dikurung, pusat papan harus dikuasai, bidak paling kuat seperti ratu dan benteng digunakan untuk memberi tekanan langsung. Strateginya lebih frontal, lebih deterministik, dan lebih mudah dibaca sebagai pertarungan dua pusat kekuasaan.

Xiangqi berbeda. Dalam xiangqi, papan dibelah oleh sungai. Ada istana yang tidak boleh ditinggalkan oleh jenderal. Ada meriam yang tidak bisa menyerang kecuali ada bidak lain sebagai layar. Ada gajah yang kuat bertahan tetapi tidak bisa menyeberangi sungai. Ada kuda yang lincah namun bisa terblokir. Ada prajurit yang awalnya tampak kecil, tetapi setelah menyeberangi sungai menjadi lebih berbahaya.

Yang dikejar bukan hanya skakmat cepat, tetapi pengaturan ruang, jebakan biaya, pemanfaatan perantara, dan pemaksaan agar lawan selalu bergerak dalam posisi salah.

Membaca Permainan China yang Sebenarnya

Dalam papan xiangqi Beijing, jenderalnya bukan Iran. Jenderalnya adalah kepentingan inti China sendiri: stabilitas Partai, keamanan energi, Taiwan, Laut China Selatan, rantai pasok industri, dan daya tahan ekonomi domestik. Iran bukan pusat permainan. Iran adalah bidak depan yang berguna untuk membuat Amerika membayar mahal setiap langkahnya.

Sungai di tengah papan adalah Selat Hormuz. Di atas kertas, Hormuz adalah jalur energi. Tetapi dalam permainan xiangqi, Hormuz adalah ruang yang bisa mengubah nilai setiap bidak.

Ketika Iran menekan Hormuz, harga energi naik. Ketika Amerika membalas dengan blokade, Iran tercekik, tetapi dunia juga ikut tercekik. Importir energi seperti Indonesia, India, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa ikut membayar ongkosnya. Di sinilah xiangqi bekerja: satu tekanan pada sungai bisa mengubah seluruh papan.

Jika raja pada xiangqi itu China, maka Meriamnya adalah Iran. Dalam xiangqi, meriam tidak bisa langsung memakan bidak lawan. Ia butuh satu bidak lain sebagai layar. Dalam geopolitik, layar itu bisa berupa narasi anti-intervensi, pasar minyak, jalur pelayaran, forum diplomatik, atau kemarahan Global South terhadap dominasi Barat.

China tidak harus terlihat menembak. Cukup membiarkan Iran menciptakan tekanan yang membuat Amerika harus merespons. Begitu Amerika merespons terlalu keras, biaya global naik dan Washington terlihat sebagai kekuatan koersif yang membuat seluruh dunia ikut menderita.

Prajuritnya adalah instrumen kecil yang terus ke depan: perdagangan energi, komponen industri, teknologi dual-use, jalur logistik, pembayaran alternatif, kerja sama pelabuhan, dan hubungan ekonomi yang tidak selalu spektakuler tetapi akumulatif. China mendesain kemenangan bukan dengan satu ledakan besar. Ia menang lewat gerakan kecil yang terus bertambah nilai setelah melewati “sungai” krisis.

Gajahnya adalah doktrin defensif: kedaulatan, non-intervensi, stabilitas kawasan, dan penyelesaian damai. China memakai bahasa ini untuk terlihat sebagai penjaga ketertiban, bukan provokator. Tetapi gajah dalam xiangqi tidak menyeberang sungai.

Artinya, China akan membela prinsip yang menguntungkan posisinya, namun tidak akan mengorbankan istananya demi Iran. Beijing akan mendukung Teheran sejauh berguna, tetapi tidak akan pernah menjadi Iran.

Kudanya adalah diplomasi regional: Rusia, Pakistan, Oman, negara-negara Teluk, BRICS, SCO, dan kanal-kanal komunikasi tidak langsung. Kuda bergerak tidak lurus, tetapi bisa melompat ke ruang yang tidak diduga. Namun kuda juga bisa terblokir. Karena itu China menjaga banyak pintu, banyak forum, banyak mitra. Jika satu jalur tertutup, ia masih punya jalur lain.

Kereta perangnya adalah infrastruktur dan ekonomi: Belt and Road, pelabuhan, refinery, shipping, energi, manufaktur, dan pasar. Ini bidak garis lurus yang kuat. China tidak perlu mengirim armada perang untuk menunjukkan pengaruh jika jalur pasok, pembiayaan, dan pasar sudah membuat banyak negara berhitung ulang sebelum melawan Beijing.

Mengapa Pergerakan Trump Justru Membuat China Dominan?

Sementara itu, Trump bermain dengan logika catur Barat. Ia melihat Iran sebagai raja yang harus diskakmat. Israel dan sekutunya menjadi Ratu pemukul. Blokade menjadi benteng. Sanksi menjadi kuda.

Trump menghadirkan banyak Ratu untuk menekan Iran. Tujuannya jelas: paksa Iran mundur, tekan nuklirnya, patahkan militernya, sehingga Raja (Iran) menyerah dan kirim pesan kepada China bahwa Amerika menang di papan catur Barat tersebut.

Tetapi di sinilah perbedaan permainan menjadi penting. Dalam catur Barat, langkah kuat sering dianggap langkah terbaik. Dalam xiangqi, langkah kuat bisa menjadi jebakan jika membuat lawan masuk ke papan yang sudah disiapkan.

Amerika bisa memukul Iran. Tetapi setiap pukulan bisa menaikkan harga minyak, menguras amunisi, mengalihkan fokus dari Indo-Pasifik, membuat sekutu cemas, dan memberi China posisi sebagai pihak yang tampak lebih tenang. Dengan kata lain, China tidak perlu mengalahkan Amerika di Timur Tengah. China cukup membuat setiap kemenangan taktis Amerika berubah menjadi beban strategis.

Di Mana Posisi Indonesia Berada?

Di titik inilah Indonesia harus membaca permainan ini lebih cermat. Bukan karena Indonesia ingin menjadi kekuatan besar yang menggantikan Amerika atau China, tetapi karena Indonesia berada dalam posisi yang akan ikut membayar ongkos jika Hormuz terus dijadikan alat sandera. Kenaikan harga minyak bukan teori bagi Indonesia. Ia berarti tekanan terhadap APBN, subsidi energi, inflasi, rupiah, logistik, dan daya beli masyarakat.

Respons Indonesia tidak boleh hanya normatif. Tidak cukup mengatakan “mendorong perdamaian” atau “menyerukan de-eskalasi”. Itu benar, tetapi belum cukup. Indonesia harus membangun posisi yang lebih operasional: menolak eskalasi, menolak blokade yang mencekik perdagangan global, tetapi juga menolak penggunaan chokepoint sebagai alat pemerasan strategis.

Indonesia juga harus membangun firewall ekonomi dan maritim. Wilayah Indonesia tidak boleh menjadi jalur abu-abu untuk barang dual-use, transaksi mencurigakan, kapal gelap, atau logistik konflik. Ini penting agar Indonesia tidak menjadi layar bagi meriam pihak mana pun.

Di saat yang sama, daya tahan fiskal dan energi harus disiapkan. Jika Hormuz terus terganggu, Indonesia harus punya skenario harga minyak, stok energi, diversifikasi pasokan, dan komunikasi fiskal yang jelas kepada pasar. Stabilitas bukan hanya soal tidak panik. Stabilitas adalah kemampuan menunjukkan bahwa negara punya rencana.

Selat Malaka Sebagai Kartu Truf

Selat Malaka bukan Hormuz. Hormuz memang vital di jalur energi. Namun Malaka adalah jalur energi sekaligus jalur perdagangan manufaktur, kontainer, bahan baku, elektronik, komoditas, dan denyut ekonomi Asia. Jika Hormuz adalah keran minyak, Malaka adalah pembuluh darah perdagangan global. Karena itu nilai strategis Malaka bisa lebih besar daripada Hormuz. Malaka adalah Hormuz dan Suez yang digabungkan.

Tetapi kartu Malaka tidak boleh dimainkan secara kasar. Indonesia tidak bisa menerapkan aturan bahwa setiap kapal yang melintas harus membayar pajak. Di bawah hukum laut internasional, termasuk prinsip transit passage dalam UNCLOS, selat internasional tidak boleh diperlakukan seperti portal tol sepihak.

Hormuz pun berada dalam perdebatan serupa, meskipun posisinya lebih rumit karena Iran dan Amerika tidak meratifikasi UNCLOS dan sering menafsirkan hak lintas secara lebih sempit. Namun secara umum, prinsip yang diakui banyak negara tetap sama: jalur pelayaran internasional tidak boleh dihambat seenaknya oleh negara pantai.

Karena itu, manuver Indonesia harus lebih manis. Bukan “menutup Malaka”. Bukan “memajaki kapal lewat”. Tetapi mengajak Malaysia dan Singapura membangun posisi bersama: jika dunia ingin Selat Malaka tetap terbuka, aman, dan stabil, maka dunia harus ikut membiayai stabilitasnya.

Ini adalah burden sharing, bukan toll fee. Packagingnya adalah maritime security contribution, bukan pajak transit. Sehingga pesan yang disampaikan adalah stability of navigation, bukan pemerasan chokepoint.

Indonesia, Malaysia, dan Singapura dapat mengatakan kepada dunia: kami menghormati UNCLOS, kami menjaga freedom of navigation, tetapi keselamatan pelayaran tidak muncul dari janji kosong. Ada patroli yang harus dibiayai. Ada radar yang harus dipasang. Ada search and rescue. Ada risiko tumpahan minyak. Ada ancaman bajak laut, penyelundupan, cyber-maritime risk, dan potensi spillover konflik besar. Jika user states seperti China, Jepang, Korea Selatan, India, Amerika Serikat, dan Eropa menikmati stabilitas Malaka, maka kontribusi mereka terhadap keamanan Malaka harus diperbesar.

Inilah cara “menyandera” tanpa menjadi hostile. Bukan dengan menutup pintu seperti bouncer, tetapi dengan membuat dunia sadar bahwa pintu yang terbuka pun perlu biaya bersama. Jika Hormuz terus membakar ekonomi global, maka Malaka harus diperlakukan sebagai barang publik global yang membutuhkan pembiayaan global.

Dengan begitu, manuver Selat Malaka tidak menjadi imitasi dari Iran. Ia menjadi koreksi terhadap dunia yang terlalu mudah bicara freedom of navigation, tetapi terlalu pelit membayar stability of navigation. Ia juga menjadi pesan kepada Amerika dan China bahwa negara-negara di sekitar chokepoint bukan sekadar wilayah lintasan, bukan sekadar penonton, dan bukan sekadar ruang yang bisa dipakai dalam permainan negara besar.

Kesimpulan

Konflik Iran versus Amerika akhirnya tidak cukup dibaca sebagai perang antara Washington dan Teheran. Ini juga papan xiangqi China. Xi Jinping tidak perlu bergerak frontal untuk membuat Amerika kewalahan. Ia cukup menjaga jenderalnya tetap aman, memakai Iran sebagai meriam, menjadikan Hormuz sebagai sungai, menggerakkan prajurit ekonomi secara perlahan, dan membiarkan Amerika menguras tenaga di papan yang salah.

Di atas papan seperti ini, kemenangan tidak selalu terlihat seperti kemenangan. Amerika bisa memukul Iran, tetapi setiap pukulan bisa menaikkan harga minyak, mengganggu rantai pasok, menguras stok amunisi, mengalihkan fokus dari Indo-Pasifik, dan memberi China ruang untuk tampil lebih tenang. Iran bisa ditekan, tetapi tekanan itu memantul ke pasar global. Hormuz bisa diblokade, tetapi dunia ikut merasakan cekikannya.

Di sinilah Selat Malaka menjadi lebih dari sekadar jalur laut. Ia menjadi cermin bagi dunia bahwa chokepoint tidak pernah netral. Hormuz menunjukkan bagaimana satu jalur energi dapat mengguncang ekonomi global. Malaka menunjukkan sesuatu yang lebih besar: bahwa jalur perdagangan dunia selama ini berdiri di atas stabilitas yang sering dianggap gratis.

Karena itu, permainan Malaka perlu dimainkan dengan rasional. Tidak perlu menutup selat. Tidak perlu mengumumkan pajak transit. Tidak perlu meniru Iran. Justru kekuatan Malaka terletak pada kemampuannya untuk tetap terbuka, tetapi membuat semua pihak sadar bahwa keterbukaan itu membutuhkan biaya, kepercayaan, dan tanggung jawab bersama.

Jika dunia tidak ingin chokepoint menjadi senjata, maka dunia tidak boleh memperlakukan chokepoint sebagai janji kosong yang gratis, sementara negara-negara pantai berdarah-darah karena dampak agresi di wilayah lain. Jika Hormuz terbakar, Malaka dan negara pantainya harus juga dijaga dan semua negara pengguna harus ikut menanggung ongkos stabilitasnya agar tidak menjadi medan konflik global baru.

Di titik ini, Indonesia tidak perlu menjadi pion Amerika. Tidak perlu pula menjadi layar bagi meriam China. Indonesia cukup berdiri sebagai negara maritim yang memahami papan, memahami jalur, dan memahami bahwa dalam abad ini, kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang punya kapal perang terbesar, tetapi oleh siapa yang mampu membaca kapan laut menjadi jalur dagang, kapan laut berubah menjadi alat tekan, dan kapan laut harus diubah menjadi meja perundingan.

Sebab dalam catur Barat, orang mencari skakmat. Dalam xiangqi, orang membuat lawan kalah lewat ruang, biaya, dan kesalahan langkah. Tetapi dalam politik maritim negara kepulauan, permainan terbaik bukan mengejar skakmat atau memasang jebakan. Permainan terbaik adalah menjaga agar papan tidak pernah dimainkan di atas tubuh kita sendiri.***

*Fransiscus Xaverius Wawolangi - Sekjen South China Sea Council.

Fransiscus X Wawolangi
Author
Fransiscus X Wawolangi
Secretary General of SCSC
Previous
Previous

Reading China’s Xiangqi in the Iran–America Conflict

Next
Next

On the Escalation of Conflict Involving Iran, Israel, and the United States