Membaca Kunjungan Strategis Trump ke Beijing dari Sudut Pandang Indonesia

Prof Banyu
Author
Prof. Dr. Anak Agung Banyu Perwita, M.A
COUNCIL MEMBER

Photo : Antara

Penulis:
Anak Agung Banyu Perwita, Sekar Hesti Sumninar

Kunjungan ke Beijing dalam rangka menemui Presiden Xi Jinping dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah situsi global yang sangat dinamis.  Kunjungan ini dilakukan di tengah rivalitas antara kedua negara, ketidakstabilan energi global, situasi Indo-Pasifik yang dinamis, serta perang Iran-Amerika Serikat yang tengah berlangsung. Dinamika tatanan global ini juga yang melatarbelakangi kunjungan tatap muka pertama dalam hampir 9 tahun terakhir antara Amerika Serikat dan China (Ma & Wong, 2026).

Sebelum keberangkatannya Trump menyatakan bahwa kunjungan ini murni dilakukan dalam agenda bisnis dan tidak ada sangkut pautnya dengan konflik Iran. Trump juga menyatakan kalau perang AS-Iran sangat terkendali dan AS mampu menyelesaikannya dengan mudah (Reuters, 2026). Meskipun begitu jika ditelaah lebih lanjut, sangat sulit membayarangkan kalau konflik Iran tidak termasuk dalam agenda kunjungan Trump. Konflik ini sangat memengaruhi stabilitas ekonomi global, distribusi energi global, sampai dengan fokus strategis banyak negara di dunia. Jika dilihat dari sudut pandang Indonesia pertemuan Trump dan Xi Jinping bukan hanya pertemuan bilateral, melainkan sebuah pergeseran keseimbangan global yang semakin mengarah kepada dunia yang multipolar.

Klaim AS yang menyatakan Iran bukan termasuk dalam agenda kunjungan ini justru semakin menunjukan sensitivitas isu tersebut. Penyangkalan kuat dalam praktik diplomasi biasanya bisa diartikan sebagai dari strategi komunikasi politik. Dalam hal ini penyangkalan Trump juga disertai “ancaman” yang bisa diartikan sebagai diplomasi koersif AS terhadap Iran. Melalui dua langkah ini AS mempertahankan citra superioritas negaranya dengan menyatakan bahwa AS masih memegang kendali penuh atas situasi di Timur Tengah. Namun faktanya hubungan erat antara China dan Iran mendorong AS untuk berkomunikasi secara intensif dengan China terutama dalam bidang ekonomi, energi, dan keamanan.

Konflik berkepanjangan ini mempengaruhi aik sektor ekonomi dan politik. Biaya perang serta tekanan politik domestik dan internasional menjadi harga yang harus dibayar oleh Amerika Serikat. AS menjadi pihak yang semakin tidak diuntungkan jika konflik di Timur Tengah ini terus berlangsung. Volatilitas harga komoditas energi mendorong inflasi dalam negeri AS. Pada saat yang bersamaan juga fokus strategis AS harus terpecah antara Timur Tengah dan Indo-Pasifik. Berbanding terbalik dengan AS, posisi Iran relatif diuntungkan dalam konflik berkepanjangan ini. Iran menerapkan strategi “perang jangka panjang” yang bertujuan untuk mempertahankan daya tawar Tehran terhadap negara Barat. Iran juga memiliki ruang bertahan lebih luas dalam konflik ini dengan adanya dukungan ekonomi dari China serta hubungan strategis dengan Rusia.

Sejalan dengan Iran, China juga berada dalam posisi yang diuntungkan, mengingat Beijing merupakan mitra ekonomi utama Iran terutama dalam transaksi jual beli minyak. Hubungan keduanya semakin erat dengan adanya sanksi Barat terhadap Iran, Tehran semakin bergantung kepada Beijing demi kelangsungan negaranya. Di saat yang bersamaan China semakin diuntungkan dengan fokus AS yang teralihkan ke Timur Tengah, hal ini memberikan ruang lebih luas kepada China dalam mendominasi dinamika di kawasan Indo-Pasifik.

Keuntungan posisi China semakin telihat lewat pertemuan Trump dan Xi Jinping. Posisi Beijing relative lebih kuat dibandingkan Washington dalam fenomena ini. AS datang membawa berbagai tekanan seperti inflasi, gangguan rantai pasok, ketidakstabilan ekonomi, serta kebutuhan kerja sama strategis dengan China terkait dengan penanganan perang Iran. Dominasi rantai pasok global, pengaruh strategis terhadap mineral, hingga kedekatan hubungan ekonomi dengan Iran mebuat Beijing menjadi satu-satunya solusi bagi Washington untuk menyelesaikan permasalahannya.

Peralihan fokus AS di Indo-Pasifik membuka celah dominasi bagi China di kawasan ini. Hal ini berimplikasi pada Indonesia sebagai salah satu negara yang bersinggungan dengan China di Laut China Selatan khususnya di sekitar perairan natuna utara (Anwar, 2023). Oleh karenanya, pertemuan Trump dengan Xi Jinping tidak hanya Indonesia lihat sebagai rivalitas ataupun kerja sama dua kekuatan besar semata, melainkan sebuah gelombang perubahan dinamika global yang besar. Indonesia tidak hanya melihat tampilan luar tapi juga melihat maksud dibalik pertemuan ini. Dalam menghadapi hal ini Indonesia memilih untuk menitikberatkan kekuatan pada kemampuannya dalam menjaga stabilitas regional, memperkuat sentralitas ASEAN, serta mencegah eskalasi konflik di kawasan Indo-Pasifik dibandingkan terlibat langsung dalam rivalitas Beijing dan Washington (Yoshimatsu, 2022).  

Selain fokus pada kawasan, Indonesia juga memiliki peluang untuk memperkuat perannya sebagai middle power dan representasi negara-negara Global South di tengah dinamika AS-Iran-China dan fragmentasi global yang semakin tajam ini. Resmi bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS merupakan upaya Indonesia dalam memperluas fleksibilitas diplomasi dan mengurangi ketergantungan berlebih kepada negara Barat. Pada saat yang bersamaan Indonesia tetap mempertahanakan prinsip politik luar negeri “bebas-aktif” dalam menjalankan kebijakan luar negerinya. Sikap ini membuat Indonesia sebagai aktor yang diperhitungkan di kawasan dibandingkan menjadi aktor pelengkap di rivalitas AS-China (Riyanto et al., 2023).

Meskipun Indonesia berfokus pada kawasan tetapi Indonesia juga mempertahankan kehadirannya di Timur Tengah, dengan memainkan peran diplomatic dalam misi kemanusiaan dan perdamaian di Gaza. Sikap yang Indonesia ambil ini menunjukan upaya Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan strategis regional, solidaritas Global South, dan citra negara yang aktif dalam diplomasi perdamianan internasional. 

Secara keseluruhan kunjungan Trump ke Beijing menunjukan fase kompleksitas lanjutan hubungan Amerika Serikat dengan China. Rivalitas keduanya tetap nyata, tetapi dinamika terbaru memperlihatkan bahwa China saat ini memiliki ruang manuver strategis yang relatif lebih besar dibanding Amerika. Menyikapi hal ini, Indonesia berfokus dalam menjaga stabilitas kawasan tanpa terjebak dalam politik blok kekuatan besar. Dalam dunia yang semakin multipolar, kemampuan Indonesia untuk mempertahankan posisi independen sekaligus menjadi aktor regional yang kredibel dapat menjadi aset strategis paling penting di masa depan.





Daftar Pustaka

Anwar, D. F. (2023). Indonesia’s hedging plus policy in the face of China’s rise and the US-China rivalry in the Indo-Pacific region. The Pacific Review, 36(2), 351-377. https://doi.org/10.1080/09512748.2022.2160794

Ma, S., & Wong, K. (2026, May 13). After nearly 9 years, Trump is landing in a totally different China. Is he ready? South China Morning Post. https://www.scmp.com/economy/global-economy/article/3353264/after-nearly-9-years-trump-landing-totally-different-china-he-ready

Reuters. (2026, May 13). Trump heads to China, says no need for Xi’s help on Iran war. https://www.reuters.com/world/china/trump-heads-china-says-no-need-xis-help-iran-war-2026-05-13

Riyanto, B., Djumala, D., & Tan, Y. (2023). Indonesia’s strategic narrative on the new dynamics of great power rivalry in the Indo-Pacific. Journal of ASEAN Studies, 11(1), 143-166. https://doi.org/10.21512/jas.v11i1.9406

Yoshimatsu, H. (2022). ASEAN and great power rivalry in regionalism: From East Asia to the Indo-Pacific. Journal of Current Southeast Asian Affairs, 42(1). https://doi.org/10.1177/18681034221139297

Prof Banyu
Author
Prof. Dr. Anak Agung Banyu Perwita, M.A
COUNCIL MEMBER
Next
Next

Bretton Woods Made in China: Why Trump Came to Beijing with Wall Street Squad